Selasa, 19 April 2011

Dunia keserakahan

Bintang menaburkan pancaran cahaya debu keindahan, bulan memancarkan sinar penghipnotisan, dan malam meyelubungi dengan hawa kegelapan, serta siang menghadirkan sinar penyinaran. Seakan membawa kita dalam putaran masa di bumi kemanusiaan, dalam sebuah simbol kekuasaan, kerakusan, dalam kendali watak kesetanan, di jadikan alasan pembenaran peradaban kemanusiaan.

Perjuangan pembebasan dalam kehidupan kemanusiaan di gaungkan sebagai simbol kesalahan keyakinan yang menjalar keseluruh permukan, untuk menutupi sebuah nilai kebenaran dan keadilan dalam pandangan kemanusaian.

Nilai kesetanan di agung-agungkan dan dijadikan alasan kebenaran perjuangan, hanya untuk menyamakan persamaan keinginan, sebagai dalil penindasan.
 ”pemerkosaan” di legalkan dan ”peracunan” diharuskan” agar tercipta dunia dalam dunia keserakahan.

Lelaki … Dan Rasa Akan Surga

Berjalan melintas beribu penyesalan, berbekalkan harapan hanya demi pembenaran.
Aku  lelaki yang berdiri, diatara lidah kemanusiaan dalam otak kebenaran berdasarkan hapalan kitap kedewaan.

Aku lelaki durga dalam hapalan kata sangsekerta, dengan dalih sang dewa demi pelacuran raga semata dialam kehidupan sang manusia.

Aku lelaki hina lahir dari setetes sperma, masuk kedalam alat kelamin betina yang kemudian membentuk ku menjadi manusia, yang sekarang hanya bisa bicara dgn kata penuh dosa.
Aku lelaki dan juga manusia yang penuh dengan hasrat dunia, yang rindu surga dalam dekapan bapa dan bunda dari keluarga rakyat jelata.

Kasih Setia

Bersama ku, dibawah naugan masa lalu di alam legenda rumah panjang. Ku duduk ditemani kopi dan laptop tua, menanti sang pujangan memberi kan inspirasi bagi pikiran yang dilanda duka jauh dari belayan kasih setia.

Bersama jiwa diatara payung sutra mengelilingi bantara rumah tua yang berlegenda, sayup irama musik gong dan kecapi tua yang dimainkan anak penghuni belantara, membawa raga ku rindu akan kasih setia.

Bersama raga dan logika ku terus jalan dialam dunia yang penuh duka, dan bersama dia ku terus kan hidup dalam pergolakan dunia, dalam pembebasan massa menuju tatana dunia yang tampa bahaya dan malapetaka.
Bersama dia kasih setia, yang menghadirkan alam surga di dunia, sebagai bukti ikrar persatuan raga dan jiwa dalam ikatan cinta manusia.

Persembahan Cinta Untuk Satu Nama

Bayang malam berjalan diantara selah dinding cakrawala, melintasi angin dan senja, diiringi kicawan suara burung surge, membawa ku haus akan kasih mesra, dari wajah sang wanita

Siang dan malam terus bergerak menyesuaikan irama dan kedipanya cahaya, membawa ku dalam dekapan suasana gemilang kasih mesra, rindu dan sayang satu nama.

Kedip rasa di mata, mengerakan kelopak bunga sutra, mengikat hati nan lara, membuat ku terpana, makna arti cinta sebenarnya, lahir dari jasat raga dua orang anak manusia.

Bulan hadir diatas tatanan surya, menerangi seluruh jagat raya sebagai siklus hidup manusia, membawa ku ingat akan makna arti cinta kita. “Cinta kita merupakan manifestasi dari pikiran kita dalam menjawab dunia yang terbungkus dalam harapan dan cita-cita”.

Namun biarkan itu semua itu berjalan apa adanya, sampai kita temukan dia terukir nyatu dalam pikiran dan kata kita, terpatri dalam jasat dan raga bersama.

Karna itu, ku persembahkan cinta untuk sebuah nama.

Resah Hati

Hari ku suram, mata ku buram, begitu juga dengan hidupku yang penuh dengan dendam. 
Dendamku, dendam hati, yang tumbuh dari mata dan diolah oleh ide dan lahirnya menyatu menjadi suatu kesimpulan pasti, dalam gerak langkah hari-hari. di alam bumi pertiwi.

Malam dan siang menjadi suatu rotasi putaran bumi, dengan hidup yang tiada pasti, kadang  ingin hati tuk lari, namun sudah ada tali ikatan yang mati, yang tidak mungkin teputus lagi.

Jalan terasa sempit, ruang pun terasa menjepit, tiada tempat dan waktu tuk dipijit, karna itu semua perlu duit. itulah suara-suara pipit  yang selalu bersuit-suit.

Hati terasa sedih, dada pun terasa perih, jika hari terus disakiti dengan dalil kesalahan lelaki.

Jeratan waktu tidak hilang dimakan hari, dan menjadi suatu kesatuan pasti, dalam putaran bumi, karna itu biarlah ini terjadi, karna ku tau pasti kapan akan berhenti, karna semua ini perlu bukti dan akan dijawab kelak suatu hari nanti.

Kata Dan Rasa.........

Kala waktu senja, saat kita terjebak dengan rasa dari ide subjektif kita, sebagai manusia yang lahir dari warisan kelas berpunya.
Hari pun tanpa terasa, di kala rasa menjelma menjadi kata, membawa kita dalam ungkapan-ungkapan yang tidak bermakna, menjebak kita dalam dunia si empu nya penguasa.

Mata terpejam dan mulutku terdiam, jiwa dan ragaku mulai terbenam, bersama hari, waktu dan senja, disaat kata dan rasa mulai berbicara, maka logika menjadi yang kedua. Saat itu fakta pun tidak bermakna.
membawa kita dalam perdebatan soal gejala-gejala semata.

Biarlah kata terus berbicara, dan rasa hanya bagian dalam ide kita, dan ide kita merupakan hasil dari tangkapan panca indra mata, dalam pengalaman praktek di alam dunia nyata.

Sang Penguasa Negri Kita.......

Ku curah kan rasa yang kian dalam, disaat mata dihadapkan dengan kenyatan, bahwasanya dia adalah penguasa.
Kurenungi jalan dan episode cerita, dari rentang waktu yang kian lama, di alam negri yang tiada pernah memberi makna, Hanya ada malapetaka dan bencana.

Tangis anak kecil mencari ibunya, hilang diterkam bencana. Pemuda terkapar penuh luka, di kebun milik sang penguasa. Seorang wanita terpaksa menjual diri demi menyekolahkan adik-adiknya.
Namun setiap harinya, disekolah anak-anak mengibarkan bendera sambil menyayikan lagu indonesia raya.

Ini semua seakan biasa saja, karna dia adalah sang penguasa yang hanya tau harta dan bendanya saja. Matanya seakan buta, telinganya pun seakan tidak ada, namun tangannya terus menerus bekerja dan otak pun mulai mutar kemana-mana, mencari celah kelemahan setiap manusia, agar tetap terus menjadi penguasa, yang dipercaya bagi si empunya.

Derai air mata buaya menyelimuti mukannya di depan media, ungkapan pun bagaikan sang pujangan saat pidato Negara, namun disaat rakyat mulai meronta – ronta, dengan tegap dia berkata “saya lah penguasa dan pemenang perolehan suara, jadi kalau tak suka tangkap dan binasa aja mereka”.

Terlintas pikiran ku tuk berkaca pada malam yang penuh manusia dengan realita yang melakonkan drama sang rahwana ... membawa ku mejadi bertanya apakah ini kehidupan rakyat di negri kita, dibawah penguasa yang jadi boneka si empunya.