Kala waktu senja, saat kita terjebak dengan rasa dari ide subjektif kita, sebagai manusia yang lahir dari warisan kelas berpunya.
Hari pun tanpa terasa, di kala rasa menjelma menjadi kata, membawa kita dalam ungkapan-ungkapan yang tidak bermakna, menjebak kita dalam dunia si empu nya penguasa.
Mata terpejam dan mulutku terdiam, jiwa dan ragaku mulai terbenam, bersama hari, waktu dan senja, disaat kata dan rasa mulai berbicara, maka logika menjadi yang kedua. Saat itu fakta pun tidak bermakna.
membawa kita dalam perdebatan soal gejala-gejala semata.
Biarlah kata terus berbicara, dan rasa hanya bagian dalam ide kita, dan ide kita merupakan hasil dari tangkapan panca indra mata, dalam pengalaman praktek di alam dunia nyata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar